25.9.11

Dana Ketahanan Pangan Rawan Diselewengkan

Masih Banyak Petani Sulit Mengakses Bantuan Gagal Panen

Minggu, 25 September 2011 , RMOL.

Dana ketahanan pangan yang digelontorkan pemerintah rawan penyelewengan. Pasalnya, hingga kini dana buat mengganti gagal panen itu banyak yang belum sampai ke tangan petani. Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Ahmad Yakub menge­luh­kan lambannya proses pencairan da­na bantuan tersebut.

“Kami mengeluhkan janji In­pres tentang program bantuan pe­merintah April lalu akibat iklim ekstrim. Untuk itu petani me­ngalami kesulitan akses,” kata Ya­kub kepada Rakyat Merdeka. Yakub mengaku mendapat la­poran dari anggota SPI di wilayah Ogan Komering Ilir, Sumatera Se­latan, juga petani di wilayah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang gagal panen. Dia mengatakan, ketika para petani itu hendak mencairkan dana bantuan gagal panen ke dinas pertanian setempat, pihak terkait tidak tahu soal ketentuan tersebut, malah bingung bagai­ma­na cara mengaksesnya. 

“Petani di daerah banyak yang be­lum menerima bantuan dana ter­sebut. Aparaturnya sendiri ti­dak mengerti ada aturan, itu kan aneh. Berarti di internal mereka tidak siap. Kok bisa begitu, kami jadi khawatir dana itu rawan diselewengkan,” ucap Yakub. Dia menganggap, sosialisasi bantuan buat petani tidak mak­simal. Itu sebabnya, dia meminta Men­teri Pertanian (Mentan) Sus­wono memobilisasi aparatnya di daerah untuk melayani petani yang gagal panen supaya dana itu lekas tersalurkan. “Sejak awal kita sudah me­wanti-wanti, janji ini sifatnya ma­teril. Pasti sangat dinantikan pe­tani yang mengalami bencana ka­rena tiap tahun bakal ada petani yang gagal panen,” tegas Yakub.

Yakub mengimbau, setiap ke­bijakan yang dikeluarkan Mentan melibatkan ormas-ormas per­tanian. Apalagi, kemungkinan penyimpangan itu selalu ada.  Ia juga berharap, dana tersebut bisa digunakan untuk pengembangan teknologi pertanian, pengadaan be­nih lokal yang bagus dan jami­nan harga serta jaminan bila ter­jadi bencana atau hama.

Pengamat pertanian Bustanul Arifin meyakini swasembada yang dicanangkan pemerintah akan terus bermasalah selama masih ada persoalan produksi dan struktural di tingkat petani. Dia berharap, anggaran yang diusulkan Kementerian Pertanian (Kementan) diarahkan untuk ke­giatan yang fokus pada kese­jah­teraan petani. “Ketahanan pangan di negara kita masih mengkhawatirkan. Sa­ya pikir ini harus ditangani serius, dan solusinya bukan semata pada be­sarnya anggaran ketahanan pa­ngan,” ujarnya. 

Anggota Komisi IV DPR Rofi’ Mu­nawar mempertanyakan tar­get surplus 10 juta ton beras hing­ga 2015, mengingat data ke­ke­ringan yang terjadi pada 2010 ma­sih terdapat 96.721 hektar area ta­naman padi yang mengalami kekeringan. Sedangkan untuk tahun ini, hingga Agustus area ta­na­man padi yang mengalami ke­keringan mencapai 95.891 hektar. “Trend kekeringan area tana­man terus meningkat. Ini meng­ancam pencapaian target surplus 10 juta ton beras yang diinginkan Presiden,” ujar Rofi’. Seperti diketahui, Inpres No.5 Tahun 2011 terkait pengamanan produksi beras nasional dalam menghadapi iklim ekstrim sudah terbit. Inpres ini mengamanatkan pendistribusian bantuan kepada petani seperti bantuan benih, pupuk, pestisida dan bantuan usaha tani bagi daerah yang terkena puso atau gagal panen. Untuk itu, pemerintah siapkan Rp 3 triliun, dengan rincian Rp 1 triliun untuk stabilisasi pangan dan harga, Rp 2 triliun untuk dana darurat ketahanan pangan terkait perubahan iklim. Belum semuanya tersalurkan, pemerintah berencana lagi me­nambah dana kesiagaan untuk pa­ngan (kontigensi) sebesar Rp 3 tri­liun pada tahun 2012. Salah sa­tunya untuk mendorong surplus be­ras 10 juta ton pada 2015. [rm] sumber http://t.co/JRGdTnWD
Baca Selanjutnya......